Showing posts with label Lain-lain. Show all posts
Showing posts with label Lain-lain. Show all posts

Tuesday, February 16, 2016

Raka

     Anak yang berjalan cepat ke parkiran itu adalah raka, seorang anak laki – laki bertubuh tinggi, berkulit sawo matang dan berambut cepak, sungguh atletis.  Raka merupakan siswa kelas XII sebuah SMA di kotanya.  Ia begitu terkenal di sekolah, betapa tidak? Ia tampan, pandai, berpembawaan ceria, dan semua jenis olah raga ia kuasai.  Mungki orang menganggap ia perfec person, nyaris tak ada cela.  Tapi saying ia nyaris terlalu kaku untuk berbicara tentang cinta. Ia bukan tipe laki – laki yang romantis tapi tipe laki – laki yang apa adanya.  Ia tak terbiasa dengan puisi atau lagu.
     Raka berjalan dengan pandangan tajam menelusuri lorong – lorong kelas langkah kakinya santai dan pasti.  Tangannya melambai seirama dengan langkah kakinya.  Wajahnya tak tersenyum sama sekali, tak terlihat aura kebahagiaan di matanya.  Perhatiannya tak terpengaruh dengan suasana di kanan maupun kirinya.  Ia tetap melenggang focus ke tujuannya.  Sampai di parkiran ia menghidupkan motornya dan mengendarai dengan kencang.  Tujuannya satu yaitu rumah.
     “Shiiiit” terdengar suara rem motor Raka terpakir di garasi.  Ia melepas helmnya dan meletakkannya di kaca spion sepeda motor.
     “Kakak…!” Sebuah suara tedengar dari dalam dan semakin keras terdengar dari luar.  Tuas pintu bergerak pertanda seseorang akan membukakan Raka pintu.  Pintu terbuka, terlihat seorang anak berusia lima tahun berkepang dua bersenyum berharap sesuatu.  Senyumannya begitu lugu, wajahnya berseri dengan tangan menengadah.
     “Apa…?”  Jawab Raka mendekat.  Kali ini lain wajahnya bahagia, ia tersenyum memandang wajah wanita kecil itu.  Tangan raka mencubit pipi gadis itu. Wanita itu mengaduh kesakitan.
     “Aduh…!”  Rengek Dita nama gadis kecil itu.  Kemudian Raka memasukan tangannya kesaku mengambil sesuatu, lalu ia mengeluarkan kembali sembari mengeluarkan suatu benda.  Ia buka telapak tangannya dan terdapat sebatang coklat yang lezat menggiurkan hati Dita.  Wajah Raka masih tersenyum dan memandang wjah Dita.
     “Asyik….!”  Teriak Dita kegirangan.  Ia menyerobot coklat itu dan segera berlari ke dalam.  Raka memandangnya sampai tubuh Dita tak terlihat, tertutup tirai ruang tengah.  Ia berdiri dan menghela nafas dalam – dalam.  Wajahnya terlihat suram kembali, ia berjalan masuk ke rumah.
     “Brukk…!”  Ia meletakan tas punggungnya di meja belajar.  Kemudian ia berbaring di tempat tidur dengan tangan terlentang.   Matanya menatap langit – langit putih yang menjadi media baying – baying semuia pikiran di benaknya.  Ia menutup mata sejenak, merasakan aliran darah mengalir sampai ke kepala, lalu bangun dengan kepala tertunduk.  Ia meletakkan tangan di kanan dan kiri tempat tidurnya.  Keringatnya mengalir dari kening hingga hidung kemudian menetes ke pangkuannya menggambarkan suasana fisik dan keadaan hatinya saat ini.  Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan secarik kertas.  Kertas itu menerangkan tentang kangker otak yang ia derita, menyatakan peningkatan stadium yang mungkin menghantarkannya pada suatu kondisi yang paling buruk yaitu kematian.  Ia menyembunyikan kertas tersebut di lemari berharap ibunya tak mengetahui hal tersebut.
     Raka cepat berganti baju dan segera mencuci muka, ibu ingin bicara, ibu tunggu di meja makan! Ibu memanggil.  Sangat jarang jarang ibu berkata seserius ini.  Raka meng iyakan perintah ibu dan sergera menuju ke ruang makan.  Raka duduk di depan ibu dan ibunya memandang anak sulungnya itu dengan senyum.  Ia menyodorkan segelas air putuh untuk Raka.
     “Terima kasih!”  Ucap Raka sebelum meminumnya.
     “Bagaimana hasil cek dokternya?  Apa ada perkembangan baru?” Tanya ibu serius.   Raka tertegun dan meletakan gelasnya kembali.
     “Oh…seperti biasa! Semoga saja saya bisa merasakan anaknya kuliah!  Jawab Raka menghibur.
     “Ibu cuma bisa berdoa, semoga kamu cepat sembuh!”  Kata ibu berpesan.  Ibu pergi meninggalkan ruang makan untuk pergi ke dapur.  Kemudian Raka kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya.  Pikirannya selalu kalut tapi ia selalu bias menyembunyikan kekalutanya tersebut.  Raka mengambil hp kesayangannya di meja belajar.  Raka bias berkutat berjamjam jika telah menggunakan benda tersebut.  Kekalutannya bias sedikit terabaikan.
      “Tok tok tok!”  Seseorang mengetuk pintu kamarnya.  Raka mempersilahkan masuk.  Pintunya terbuka dan memperlihatkan wajah Dita yang tersenyum lebar sembari mempertontonkan giginya yang ompong sebelah.  Dita mendekat dan duduk di sebelah Raka.
     “Ada apa Dit?”  Tanya Raka sambil mengutak atik keypad hpnya.
      “Kak, besok beliin coklat lagi ya! Tapi yang kaya di iklan tadi! Pinta dita merayu.  Raka memandangnya dan mengangguk.  Anggukan itu sudah cukup bagi dita untuk tidak berlama – lamadi kamar kakaknya.  Dita kembali dengan langkah sedikit berlari.  Tapi Raka lupa menutup pintu kamar kakaknya.  Raka menoleh ke pintu itu.

     “Kepada siapa Dita meminta coklat itu jika aku tiada?”  Kata Rakadalam hati.  Kemudian ia menghela nafas dalam – dalam.

NURUL FADILAH/ X5

Hari yang Melelahkan

Namaku Ulfa, aku adalah siswi SMP yang biasa- biasa saja. Minggu ini adalah hari pertama masuk sekolah sehabis libur panjang. Pagi ini aku berangkat ke sekolah dengan malas. Tak punya daya rasaya, ku kayuh sepedaku pelan- pelan.
“Enakan di rumah, bisa tidur- tiduran, nonton tivi, ahh… nasib- nasib!” Aku masih menggumam.
Setelah sepuluh menit mengayuh sepeda akhirnya aku sampai di sekolah. Ternyata semua telah berkumpul. Mereka menyambutku, semua rasa malasku hilang berganti gembira. Ada Alif si seksi Keagamaan yang sedang sholat Dhuha. Widi dan Riski si bendahara yang sedang sibuk menagih kas kelas ala rentenir. Yoga si seksi olahraga yang sedang menceramahi kami tentang bahaya rokok ala orasi calon presiden. Juga si Iqbal ketua kelas yang super cerewet dan sok ngatur. Hanya aku yang tidak menguasai bidangku sendiri sebagai seksi kesenian, aku asyik berbicara dengan Atik si sekretaris tentang gosip terbaru di sekolah.
“Dimana Alif? Gak kecium baunya!” Tanyaku.
 “O… lagi menghadap yang kuasa?” Kataku.
“Meninggal jam berapa? Aku masih hutang seribu lima ratus ma dia, terus buku catetan agamanya masih ku pinjam, sepedanya barusan aku bocorin, gimana?” Tanyaku.
“Huss… bukan meniggal tapi lagi sholat Dhuha, gimana sih kaya gak tau aja tempat semedinya.” Jawabya.
“O… kirain is dead, terus Widi ma Riski mana?” Tanyaku lagi.
“Biasa juga, lagi nagih utang muter- muter kelas!” Jawabnya.
“Kalo Wicaksono?” Tanyaku lagi dan lagi.
“Nah dia lagi ngumpet di kamar mandi, takut ditagih Widi ma Riski!” Jawab Atik.
“Oalah… dodol semua!” Komentarku.
Aku melihat si Doni, siswa paling tampan di sekolah yang sedang tebar pesona kepada adik kelas.
“Dasar cowok, gak tau apa ada bidadari yang lagi duduk disini!” Ocehku kesal.
“Bidadari jatuh dari bajai?” Teriak Yoga.
“Sirik!” Kataku tidak terima.
Sambil menunggu jam pelajaran dimulai, kami berkumpul sembari bercanda, mulai dari meng-gosip guru sampai berbicara tentang Piala Champion. Kubu perempuan hanya terdiam tak tahu secuilpun tentang dunia sepak bola.
“Eh tahu gak, pak Hadi Fisika punya anak cowok lo… cakep banget namanya Anjar, masih SMA.”  Kata Widi memulai gosip kami.
“Alah cewek kebiasaanya gosip, sekali- kali tahu dong tentang olahraga!” Tantang Yoga.
“Nggosip kan juga olahrga!” Jawabku tak terima.
“Olahraga dari hongkong, apanya yang olahraga!” Wicaksono menyindir.
“Ya… olahraga mulut, olahraga telinga… komplit deh!” Jawabku percaya diri.
“Coba aku tes seberapa pengetahuanmu tentang dunia sepak bola, coba sebutkan apa saja yang kamu ketahui tentangnya!” Tantang Alif.
“Siapa takut, kita gak takut kan fren?” Jawabku meminta dukungan.
“Kalo gak salah Soni Dwi Kuncoro masuk TIMNAS kan? Laluuu Beni Dolo juga jadi striker!” Jawabku bangga.
“Ha...ha...ha...huhu... Ulfa sayang sekarang kamu pulang aja deh mandi, cuci kaki, minum susu, terus tidur deh ama mama.” Ledek kubu laki- laki.
“Emang kenapa? Ada yang salah? Jawab dong!” Aku kebingungan.
“Ulfa cantik, baik hati, soleha… tau gak kalo Soni Dwi Kuncoro itu pebulu tangkis, terus kalo Beni Dolo itu pelatih TIMNAS bukan striker, mengerti!” Jawab Alif bijaksana.
Aku merasa malu atas ke-soktahu-anku, tiba- tiba bel berbunyi menandakan waktunya pelajaran dimulai.
“Ulfa salam buat Soni Dwi Kuncoro ya!” Teriak Yoga meledekku sambil berjalan menuju tempat duduknya.
“Bodo!” Jawabku sinis.
Begitulah kami bercanda di sela- sela kesibukan kami belajar mempersiapkan Ujian Akhir. Mungkin aku akan sangat rindu jika suatu saat kami berpisah untuk studi lanjutan.

ŃŃŃŃŃ

Jarum jam berputar terasa sangat lambat saat kami sedang mendengarkan pelajaran sejarah. Bosan sekali mendengar cerita yang diulang- ulang dari kelas lima SD itu, temanya tentang Pembebasan Irian Barat.
“Kenapa ada pelajaran sejarah sih… membosankan!” Aku mengoceh dengan teman sebangku. Aku suka sekali duduk di pojok belakang, selain sejuk, kami juga sering membuat obrolan sendiri di pojok.
“Teett… teett… .” Bel berbunyi waktunya berganti pelajaran Agama. Pelajaran Agama adalah kesukaanku, bukan karena aku sok alim tapi karena banyak tersisa waktu buat tidur- tiduran, melamun, ngobrol sendiri dan sebagainya. Kali ini pelajaran Agama memuat tema pemandian jenazah, aku tak tertarik sedikitpun.
Saat aku terbang dalam lamunan, guruku memanggil dan mengemukakan suatu pertanyaan, dan aku menjawabnya secara spontan.
“Mbak yang di pojok… bagaimana do’a memandikan jenazah?” Tanya guruku pak Fattah.
“Apa pak? Anu di mandiin, dikafanin, disolatin, baru di kubur pak!” Jawabku spontan. Serentak teman- teman menertawakanku, aku masih belum sadar akan kesalahanku.
“Saya tidak menanyakan tentang cara memperlakukan jenazah, tapi do’a memandikan jenazah! Makanya kalau di kelas jangan melamun. Ayo duduk di barisan depan! Di belakang banyak setannya!” Sentaknya.
“Baik pak!” Jawabku singkat sambil menenteng tasku ke depan. Aku memperhatikan seluruh jam pelajaran yang tersisa dengan terpaksa. Aku merasa menjadi anak paling bodoh di kelas. Aku berusaha untuk menjawab pertanyaan dari pak Fattah.
“Apa kalian tahu apa bedanya mati orang beriman dengan matinya orang kafir?” Pak Fatah memberi pertanyaan.
“Ah gampang! Saya pak!” Aku mengangkat tangan.
“Ya Ulfa!” Pak Fattah mempersilakan.
“Itu pak orang kafir kalo mati jenazahnya di rubung belatung, dikerubutin laron, gosong, keluar cacing dari mulutnya, pokoknya yang jorok- jorok deh!” Jawabku.
“Dasar! Kebanyakan nonton sinetron gak bermutu ya kayak gini! Sudah kamu diam dan perhatikan pelajaran bapak jangan sok tahu.” Sentaknya naik darah.
“Baik pak!” Jawabku lemas, aku diam seribu bahasa sepanjang pelajaran.
“Iqbal coba kamu jawab pertanyaan bapak tadi.” Kata pak Fattah.
“Kalo orang beriman meninggal dalam keadaan tenang, terlentang, mengucapkan kalimat La illa ha ilallah, biasanya menitih kan air mata.” Jawabnya percaya diri.
“Bagus!” Puji pak Fattah.
“Alah sok pinter!” Kataku dalam hati.
Pelajaran berakhir, waktunya pulang sekolah. Sungguh sangat kunanti, bagaikan terbebas dari penjara kolonial Belanda. Aku pulang bersama Widi, Atik dan Riski. Kami bertemu Doni di depan pintu gerbang sekolah, tak disangka ia memanggilku. Aku terkejut, apa yang akan ia bicarakan denganku.
“Ulfa aku mau bicara berdua saja!” Katanya.
“Kenapa? Kita bicara disini saja!’ Jawabku.
“Gak mau aku malu!” Jawab Doni.
“Ciee… so sweet jangan – jangan dia mau mengutarakan perasaannya sama kamu lagi!” Kata teman- teman menggodaku.
Aku pergi agak menjauh dari teman- teman dan berbicara berdua saja dengan Doni. Aku penasaran, kaget dan bingung dengan segalanya yang mungkin terjadi.
“Fah aku mau ngomong penting banget, kamu jangan marah ya!” Katanya.
“Ya ngomong aja, aku gak marah.” Jawabku.
“Anu… mau gak…”! Katanya
Jantungku berdebar- debar tak karuan, aku tak tahu harus menjawab apa. Tanganku dingin, dan gemetar. Ku dengarkan semua perkataannya suku demi suku.
“Mau gak… pinjemin aku uang lima puluh ribu aja, aku mau ngasih hadiah cewekku tapi ga ada duit, mau ya… aku udah ga tau lagi mau pinjem ma siapa, setauku cuma kamu sahabat terbaikku.” Katanya malu- malu.
“Astaghfirullah kirain mau nyatain perasaan buat aku. Jadi ill fill kalo gini.” Kataku dalam hati.
“Ya nih tapi kembaliin minggu depan ya…!” Kataku sambil melangkah meninggalkannya menuju teman- temanku yang sudah menunggu berharap- harap cemas. Baru satu meter aku meninggalkan Doni, Atik berlari mendekatiku sambil berbisik penuh Tanya.
“Gimana kamu terima..? Tanya Atik penasaran.
“Gak aku tolak!” Jawabku.
“Lo kok gitu katanya dulu naksir?” Tanya Widi.
“Itu dulu, kalo sekarang enggak!” Jawabku melayani mereka.
Teman- teman tidak tahu yang sesungguhnya terjadi. Kami melanjutkan tujuan kami untuk pulang. Widi dan Riski masih penasaran dengan alasanku menolak Doni, aku hanya membalas pandangan mereka dengan senyum.
“Hari ini sangat melelahkan, sudah di marahi guru, di ejek Yoga, dipalak ma Doni lagi. Huhhhh…”Gumamku dalam hati. Apa lagi yang akan terjadi padaku nanti.



THE END

Nurul Fadilah/17/X5

File Lama

Seperti biasa, setelah pulang mengajar les privat, saya iseng-iseng membuka laptop. Saya buka file-file lama, dan tidak sengaja menemukan beberapa folder tugas-tugas SMA. Ada beberapa file word di dalam folder tersebut. Saya buka satu persatu. Kyyaaaaa... setiap kenangan SMA tetiba menyeruak ke dalam benak saya. Saya ingat semua teman-teman, guru, dan setiap kejadian di masa itu. Sangaat menyenangkan. 
Pada postingan selanjutnya, akan saya post tulisan yang saya buat semasa SMA. Tentu saja tulisan itu saya buat untuk tugas sekolah. Tulisan tersebut saya buat untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia. Ada resensi buku dan beberapa cerpen. Selamat membacaaa :)
File Jadul

Foto-foto di kelas 11 IPA 4 pakai kamera laptop :D

Saturday, July 19, 2014

SESAL - Short Movie

Oiya, inget nggak dulu saya pernah cerita kalo saya ikut Workshop Audio Visual. Nah, dari workshop tersebut saya berhasil menelurkan sebuah film pendek wkwkwk. Film itu digarap secara profesional oleh Kanan Depan Production. Kesempatan tersebut adalah langkah awal saya meniti karier di dunia per-film-an, peran saya disitu masih sebagai make up artist :D Berbekal alat make up pinjaman dari anak seni tari, saya bereksperimen untuk me make over para pemain. Ada yang make up natural, ada juga yang make up karakter. Saya belajar make up semalaman, hasilnya nggak mengecewakan kok. Lumayanlah buat amatiran hoho. 
Ide cerita dituliskan oleh Adi, karena dia sudah memiliki jam terbang tinggi tentang pembuatan film, maka dia juga didaulat menjadi director juga. Ceritanya menurutku si kayak sinetron. Tapi lumayan membuat yang nonton agak berkaca-kaca si waktu itu.





SESAL
Director : Adi Ahmad Arifin
Editor : Adi Ahmad Arifin
Kameraman : Fakhri Ali Azizi
Kleper : Billy Andiefyura & Rosyid Ilma Samsu N
Make up : Nurul Fadilah
Wardrobe : Alfiyatus Solechah
Pemain : Feriyanto, Resti, Eri, Rahman
Bintang Tamu : Budi Santoso
Kanan Depan Production



Saturday, April 19, 2014

Surat Pendek

Bismillahirrohmanirrohiim. Berikut adalah file mp3 surat-surat pendek Al Quran.
Silakan download. Semoga bermanfaat.
Download Surat Pendek

Friday, April 18, 2014

Untuk Guruku

Melihat beberapa unggahan foto guru di facebook membawaku ke masa-masa sekolah.
Benar, baru sekarang-sekarang ini  rindu dan rasa hormat saya untukmu benar-benar terasa.
Semoga rahmat, kesehatan, kebahagiaan dan rejeki selalu tercurah untukmu guruku. :)

Guru SMAN 1 Purworejo

Guru SMPN 20 Purworejo

Game Happy Balloon for Android


Horeee.. game android pertamaku udah jadi. Nggak ding , ini produk dari Niken Ramandha, Putri Astian dan aku sendiri. Butuh waktu satu minggu untuk membuat game ini karena kita harus meluangkan waktu diantara kesibukan kita pada jadwal kuliah masing-masing. Dibelain hotspotan di kampus sampai tengah malam biar dapet koneksi internet yang kencaaang. Hasilnya belum sempurna, masih banyak kekurangan disana -sini. Tapi lumayanlah sebagai pemula. Bagi yang berminat silakan download game-nya dilink berikut
 Download Game Happy Balloon for Android
Tunggu game kita selanjutnya ya. See you :)

Sunday, April 6, 2014

Latihan Syuting - syuting

Yup, pada postingan kali ini ane akan bercerita tentang pengalaman ikut workshop Audio Visual. Workshop tersebut diadakan oleh PPMP Unnes untuk mahasiswa umum, acaranya akan diadakan di dua tempat yaitu di Bandungan dan kampus. Acara ini gratis! Mendengar kata-kata gratis mata ane langsung berbinar-binar :D . Usut punya usut, yang ikut acara tersebut kebanyakan adalah delegasi dari klub jurnalistik di masing-masing jurusan. Berbekal kenekatan aku sama Ari nekat  ikut workshop tersebut. Dan benar saja, kita berdua menjadi minoritas warga sipil yang mengikuti acara tersebut. Nggak ada basic sama sekali di bidang keterampilan audio visual. Tapi PD aja dah :D

Pembagian kelompok. Aku ada di kelompok tiga. Disini ada sembilan mahasiswa dari jurusan berbeda-beda. Sengaja tiap kelompok diberi beberapa anak yang udah master dalam hal audio-visual. Di kelompok ini ada Adi dan Fakhri dari FBS.
Hari pertama diisi materi editing. 
Hari kedua diisi materi keterampilan mengambil gambar.  Ada banyak istilah yang muncul. Long shoot, medium shoot, tile up, tile down, looking spece, garis imajiner, jumping, bocor, dan banyak lagi. Awalnya semua itu agak aneh di telinga ane. Lama-kelamaan mudeng juga :)
Setelah mendengarkan sedikit teori, tiap kelompok diminta untuk praktek menggunakan kamera secara langsung. Kami ditugaskan membuat adegan pendek berdurasi beberapa menit saja. Kerennya di sini, dua yang udah master dalam hal penggunaan kamera bisa sedikit menekan egonya. Jadi kami bersembilan mempunyai kesempatan mengambil gambar per adegan. Ada 9 adegan, semua anggota bergantian menjadi juru kamera. Pengalaman pertama buat ane memengang kamera seriusan kaya gitu, hehehe.
Oiya tema film pendek dari kelompok kami adalah tentang cinta lingkunga, asiiik :D
 
Mempelajari menu-menu yang ada di dalam kamera

shoot 6 -  Rahman

Shoot 7 -  Resti

Shoot 5 - Nurul
Sebenernya bukan itu foto ane pas ambil adegan, soalnya malu buat minta tolong fotoin. hehehe, itu mah cuma gaya-gayaan aja pegang kamera :p



Shoot 1 - Fakhri

Shoot 2 - Adi

Shoot 3 - Alfi

Shoot 8 - Billy

Shoot 9 - Rosyid
Acara di Bandungan selesai, banyak dapet temen, ilmu, seneng juga nginep di tempat dingiiin.
Acara selanjutnya diselenggarakan hari Kamis dan Jumat besok di kampus. Semoga menyenangkan dan bermanfaat :)

Monday, December 30, 2013

Banjiiir..



Lapangan samping rumah
Pertama kali dalam sejarah perbencanaan Purworejo, baru kali ini Wironatan mengalami banjir hingga menyebabkan beberapa warga harus dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Si banjir terjadi disebabkan oleh jebolnya beberapa tanggul sungai di sekitar kecamatan Butuh. Karena si banjir, beberapa rumah terendam air sampai 1 meter, terlebih lagi untuk daerah barat yang notabenenya merupakan daerah landai.
Berikut beberapa dokumentasi yang saya dapatkan dari sumber terpercaya :D
Depan rumah jadi pangkalan "gethek". You know gethek?

Adik gue naik perahu

Dari mana dapat perahu?

Rumah orang tua gue tenggelam 20 cm

Penampakkan sawah sebelum banjir datang

Jalan depan rumah udah kaya kolam
Sekolah jadi tempat pengungsian warga yang rumahnya sudah tidak bisa dihuni

Thursday, December 26, 2013

Ciptakan Ciri Khas mu

Pembelajaran di perkuliahan tidak melulu mengenai materi-materi mata kuliah, sesekali para dosen memberikan ilmu lain yang juga bermanfaat. Entah itu motivasi, tips ataupun sekedar guyonan belaka, biasanya dosen berikan di sela-sela materi. Beberapa waktu kemarin, dosen Matematika Diskrit saya memberi sedikit tips untuk kami para mahasiswa. Sederhana, tapi mungkin tidak sempat terpikirkan untuk melakukan hal itu. 
Tips apa coba? 
Rahasia!
Enggak-enggak.
Pak Amin notabenenya memang dosen yang kocak sering sekali memberi tips-tips, motivasi ataupun guyonan aneh. Jadi kami para mahasiswa tidak bosen walaupun materi kuliahnya agak susah. Tips yang beliau berikan adalah agar kita memberi corak khas pada tanda tangan/ paraf kita. Hal itu diperlukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Hal-hal yang tidak diinginkan seperti apa? Misalnya:

Kasus
Orang Asing : Selamat pagi Bu.
Ibu : Iya, ada perlu apa ya pak.
Orang Asing : Kami dari kantor pajak ingin meminta tagihan pajak.
Ibu : Maaf pak, tetapi suami saya sedang tidak di rumah, bagaimana kalau nanti sore saja, menunggu suami saya pulang, nanti saya hubungi lagi Pak.
Orang Asing : Maaf Bu, kebetulan tadi saya sudah menemui bapak di kantor, namun karena beliau sibuk, saya disarankan untuk menemui Ibu. Ini form sudah ditandatangai, tinggal melakukan pembayaran.
dst

Tunggu-tunggu, bukan berarti kita harus mencurigai setiap petugas yang datang ke rumah kita untuk melakukan penagihan, tetapi untuk bersikap preventif saja. Bisa jadi petugas tesebut adalah petugas jadi-jadian yang menyalah gunakan tanda tangan penting seseorang. Bisa saja terjadi kan? Kasus ini sudah banyak terjadi loh.
Nah, bagaimana cara menanggulanginya?
Salah satunya adalah dengan cara memberika coretan khas pada tanda-tangan kita. Coretan itu harus bersifat khas dan usahakan hanya kita dan keluarga yang mengetahuinya. Jadi saat ada oknum yang menyodorkaan tanda tangan seseorang sebagai modusnya, kita bisa mendeteksi apakah tanda-tangan itu adalah benar ataupun palsu. 
Contohnya seperti di bawah ini
Di tanda tangan ini, khasnya adalah pada goresan pertama. Goresan pertama selalu berada di atas huruf  "E".

Di tanda tangan ini, khasnya adalah pada goresan akhir. goresan terakhir selalu berada di atas huruf "K"
 Nah, kalian bisa membuat khas tanda tangan kalian masing-masing. Yang penting harus unik dan rahasia. Dan perlu diingan juga bahwa penggunaanya hanya untuk tanda-tangan penting saja, kalau untuk daftar hadir, tanda terima paket dan hal sepele lain tidak usah memunculkan ke-khasan itu, agar tanda tangan kalian tidak mudah terdeteksi ke khas-annnya.

Berikut tips darisaya, semoga bermanfaat. See You di postingan selanjutnya :DD

Thursday, November 14, 2013

Daftar Pemain Manchester City Musim 2013-2014


KIPER

Joe Hart



Richard Wright

Costel Pantilimon





BEK

Micah Richards

Vincent Kompany

Pablo Zabaleta

Joleon Lescott

Aleksandar Kolarov

Gael Clichy

Martin Demichelis


Matija Nastasic


Reece Wabara





GELANDANG

James Milner


Samir Nasri


Javi Garcia


Jasus Navas


Jack Rodwell


David Silva


Fernandinho


Yaya Toure





PENYERANG

Negredo


Edin Dzeko


Sergio Aguero


Stevan Jovetic


John Guidetti





PELATIH

Manuel Pellegrini